Ini adalah ‘kita’

Before the whole thing you read, gue tahu satu hal. Apa yang akan kalian baca ini mungkin sebagian besar tidak kalian setujui mengenai opini gue. Let me know by send me an e-mail, or just write in the comment section. Let they know your opinion, too.

Let’s begin

Mari berbicara mengenai sifat dasar manusia. Manusia diciptakan dengan akal yang sangat hebatnya. Kita tidak bisa menulis rumus pasti mengenai sistem kerja pikiran kita. Namun, kita bisa mengendalikan sebagian dari pikiran kita.

Iya, sebagian

Kita tahu, dari ahli hipnotis, bahwa kita memiliki pikiran yang ada dalam diri kita tentang sesuatu yang tidak kita sadari tapi terjadi, yaitu alam bawah sadar. Alam bawah sadar, yang gue ketahui, adalah pikiran yang ada dalam akal dan tubuh kita yang kita sulit untuk kendalikan namun itu terjadi.

Gue pernah dengan sebuah cerita, yang gue sadari kebenarannya. Cerita tentang seorang pelawak.

Suatu ketika, ia melakukan pekerjaannya, yaitu komedi tunggal. Ia menceritakan kejadian lucu dengan rapih dari setiap bitnya hingga punch-line.

Jelas, semua orang tertawa terbahak-bahak.

Lalu, ia menceritakan kembali kejadian yang sama berikut dengan bit dan punch-line yang sama pula.

Sebagian orang tertawa.

Ia pun menceritakan kejadian yang sama, untuk ketiga kalinya, berikut dengan bit dan punch-line yang sama pula.

Tidak ada yang tertawa.

Semua orang kebingungan, pelawak tersebut terkenal dengan kelucuan dan kecerdasannya dalam melawak. Keheningan panjang pecah oleh suara penonton, “Hanya segitu kemampuanmu ? Kami tidak berniat untuk melihat lawakan yang itu-itu saja. Beri kami yang lain.”

Pelawak tersebut tersenyum dan ia berkata, “Mengapa kalian tidak bisa tertawa dengan lawakan yang sama, sedangkan kalian bisa menangis untuk kesedihan yang sama ?”

That is the point, salah satu sifat dasar manusia, yang dikendalikan oleh bawah sadar kita, adalah untuk menangisi bahkan mencari-cari kesedihan kita.  Itulah yang menyebabkan kita sering mengingat kejadian bahagia bersama mantan kekasih, membandingkan diri kita dengan orang lain, bahkan memikirkan kejadian yang tidak kita sukai karena kita cenderung merasa ‘nyaman’ dengan ketidaknyamanan kita.

Itu pula yang membuat kita merokok, mabuk, bahkan drugs padahal kita tahu, masalah tidak akan selesai jika kita melakukan hal itu. Malah, masalah baru akan datang jika kita melakukan itu.

Jadi, sadarilah apa yang membuat kita sedih dan terpuruk. Jauhi hal tersebut. Pergilah, cari kebahagiaan yang bertebaran dimana-mana. 🙂

Kemerdekaan berpendapat. 

Kemerdekaan berpendapat. 

Menyenangkan saat kita bisa berbicara sepuasnya didepan umum, mengkritik sistem sekolah, sistem kampus, bahkan pemerintahan. 

Pemikiran kritis kita yang dilandaskan pengetahuan, ilmu, dan pengalaman akan mampu merubah itu semua menjadi lebih baik. Tapi, apa benar itu lebih baik ? Atau hanya sesuai dengan keinginan kita ?

Kemerdekaan berpendapat. 

Senangnya kita bisa bilang “Presiden sekarang kinerjanya buruk,” tanpa harus takut ditangkap oleh pihak berwenang karena orang yang kita kritik tersinggung. 

Kemerdekaan berpendapat. 

Dimudahkan dengan akses internet yang membuat kita menjadi anonymous, tidak terlihat jelas. 

Ya, tidak terlihat jelas yang berarti identitas kita masih dapat diketahui oleh orang lain. 

Kemerdekaan berpendapat. 

Memiliki perbedaan yang jelas akan kebebasan berpendapat. Kita, terkadang, masih tidak tahu apa yang disebut merdeka. Merdeka bukan berarti bebas sepenuhnya. Merdeka adalah bebas yang dikekang oleh tanggung jawab. 

Kemerdekaan berpendapat. 

Harus memiliki tanggung jawab dan siap menanggung resiko, apapun itu. 

Jadi, itulah mengapa kemerdekaan berpendapat tetap memiliki Undang-undang yang mengatur kemerdekaan berpendapat.  

Kembali

Terlalu lama digunung membuatku terbiasa akan udara sejuk
Kesulitan mencari oksigen
Karena tekanan udara yg semakin menipis
Menjadi makanan sehari hari

Mungkin sudah saatnya untuk pergi kelautan
Mencoba hal yang aku pandai didalamnya
Yaitu berenang

Namun
Ombak laut serasa membawaku kembali
Seakan berbicara, “Disini bukan tempatmu.”
Membuatku ingin kembali ke gunung

Sirkus

Seperti binatang sirkus
Yang bertugas untuk bekerja dan diberi makan hanya untuk sebatas hidup

Hidupnya bergantung pada satu hal
Keputusan pelatih

Dicambuk agar pandai, disiksa agar mengerti
Makan ketika diberi, istirahat saat pelatih letih

Hidup bebas ? Bergerak sesuka hati ?
Mungkin hanya dalam angan

Dikekang peraturan dengan siksa sebagai saksi
Membahagiakan orang lain dengan memendam pedih di hati

Ketika mati adalah jalan terbaik
Keluar dari kandang pun akan mati

Dengan luka ditubuh yang tidak kuat lagi
Mana bisa berharap untuk bebas kembali ?

Ikhlas

Mari ngomongin Ikhlas.

Ikhlas harus ada ketika kita kehilangan.

Ikhlas harus ada ketika kita merasa bahwa ‘enak’ yang kita rasa bukanlah sesuatu yang tepat.

Ikhlas harus ada ketika semua yang kita jalani ternyata bukan sesuatu yang benar.

Ikhlas pasti ada di hati kecil kita.

Ikhlas sedang berusaha keluar dari dalam hati kecil kita.

Ikhlas mungkin berkata “Life must go on, bro“.

Ikhlas adalah menerima. 🙂

 

Ide

Sudah sekitar beberapa tahun belakangan, gue menanggapi serius mengenai menulis. Entah itu tulisan mengenai opini gue terhadap suatu hal ataupun tulisan fiksi yang pendek. Dari tulisan itu semua gue sadar satu hal. Semua hal yang gue tulis, datangnya dari hal yang bernama IDE.

Ide ini bentuknya abstrak. Kita ga bisa dengan mudah menjabarkan mengenai bagaimana sebenarnya bentuk ide. Tetapi, ide juga bukan sebuah rasa. Ide merupakan sebuah pemikiran.

Penulis membutuhkan ide untuk membuat tulisan menulis. Musisi membutuhkan ide untuk membuat musik. Scriptwriter membutuhkan ide untuk membuat cerita. Bahkan ilmuwan, saya kira, membutuhkan ide untuk membuat penelitian. Semua hal di dunia ini membutuhkan ide. Lalu, bagaimana ide itu ada ?

Semua manusia pasti mempunyai otak. Otak yang Tuhan berikan kepada kita adalah organ yang paling canggih dan berharga. Otak menyimpan berjuta rahasia dan sampai sekarang tidak ada makhluk Tuhan yang bisa membuat benda serupa otak.

Di dalam otak kita dapat berpikir. Berpikir mengenai segala hal, begitu pun ‘menemukan’ ide. ‘Menemukan’, karena sebenarnya ide tersebut ada didalam kepala kita. Kita hanya perlu sedikit usaha untuk mendapatkannya dan menjabarkannya dalam sebuah karya, baik itu tulisan, musik, ataupun penelitian.

Untuk mendapatkan ide, kita sangat membutuhkan rasa peka. Peka terhadap sekitar kita. Karena sesungguhnya karya-karya yang kita lihat diluar sana adalah bagian dari kepekaan. Perhatikan karya idola kalian, lalu perhatikan dan bayangkan sebenarnya sebelum mereka menciptakan karya tersebut apa yang mereka pikirkan.

Kita pun sebenarnya bisa membuat karya yang sama baiknya dengan mereka. Asalkan kita bisa lebih peka terhadap suatu hal. Mungkin, kehidupan kalian yang sulit bisa kalian ceritakan dalam sebuah cerita fiksi ? atau cerita putus sendal kalian karena lari-lari dijalan bisa kalian buat dalam sebuah musik yang asik ? Ide bisa datang dari manapun. Tetapi, tetap kita harus belajar bagaimana caranya membuat cerita fiksi atau musik yang baik supaya karya kita bisa diterima di benak banyak orang.

Jadi, mulailah lebih peka terhadap segala hal dan jangan pernah malu untuk menciptakan ‘hasil dari kepekaan’ kalian karena mereka sebenarnya gatau bahwa kalian memiliki berlian yang tersembunyi yang bernama ‘karya’. 🙂

Bias Kelas

Gue menggunakan kata ‘bias kelas’ yang berarti ketidaktahuan terhadap pengetahuan yang dimiliki oleh kelas lain.

Kelas, seperti yang kita ketahui, ada kelas yang tinggi dan ada kelas yang rendah. Gue menyebutkan kelas tinggi ini kelas Superior. Kelas yang diisi oleh orang orang yang ‘menganggap’ dirinya High class, berpendidikan tinggi, dan ‘memiliki’ pengetahuan yang lebih daripada yang lain. Sedangkan, untuk kelas rendah gue menyebutkan dengan kelas Bawah. Kelas yang diisi oleh orang orang yang berpendidikan standar dan memiliki pengetahuan orang – orang bawah.

Dalam bias kelas ini biasanya sering menyebabkan beberapa masalah. Contohnya dalam kasus Kangen Band dan band melayu lain.

Banyak dari kita yang tidak suka dengan Kangen Band, biasanya alasannya ya karena sang vokalis yang berdandan nyentrik dengan rambut ‘polem’ nya. Ada pula sebagian dari kita yang menganggap musik melayu adalah musik yang tidak cocok dengan kelasnya.

Kalo kita perhatikan baik – baik. Gaya rambut yang dipilih dan digunakan oleh vokalis Kangen Band itu termasuk dalam gaya model anak – anak emo luar negri. Dan, biasanya kita tidak ada masalah dengan mereka. Lalu, kenapa kita mesti mempermasalahkan vokalis kangen band yang menggunakan gaya rambut emo ? Itu kan kebebasan dia. Parahnya, sadar atau tidak, jika kita mempermasalahkan dia menggunakan gaya rambut tersebut karena dia termasuk golongan kulit berwarna, maka kita termasuk dalam permasalahan rasis.

Sekali lagi, kalo kita perhatikan baik – baik. Orang Indonesia adalah masyarakat melayu. Kita pasti menikmati hal – hal yang berbau melayu. Contohnya dalam bidang musik. Secara tidak sadar kita pasti menikmati kalo di angkot tiba tiba sang supir mendengarkan lagu melayu. (Yang gue maksudkan dengan ‘kita’ disini adalah orang – orang kelas Superior. Karena gue juga pernah merasakan apa yang kalian rasakan yaitu gak suka dengan musik melayu)

Inilah yang gue maksud dengan bias kelas. Yaitu keadaan dimana seseorang yang berada dikelas tertentu merasa ‘asing’ bahkan seringnya mengintimidasi kelas lainnya. Tidak hanya kelas Superior terhadap kelas Bawah, bisa juga sebaliknya.

Sebaiknya, sebelum kita menilai suatu karya dari kelas tertentu, kita harus tahu dulu tentang pengetahuannya, harus bisa mengerti dulu tentang karyanya. Jangan hanya mengkritik kelas lain tanpa ada makna didalamnya.

Jadi, mulai sekarang minimal kita harus punya banyak pengetahuan agar kita dapat memandang kelas lain dengan cermat. 🙂